Cerpen Cinta Terlarang

Sebuah cinta yang sangat rumit dimana semua merasa bersalah, dan harus merelakan orang yang dicintainya, kini mereka tak dapat lagi memilih karena semua pilihan akan tetap menyakiti satu sama lain. Hidup memang rumit membutuhkan pilihan yang tepat untuk menjalani masa depan.

_Echa Prahmana Reza_

Angin menari-nari indah di udara  tapi sayang tariannya tak mampu mencairkan ketegangan di taman belakang sebuah sekolah SMA. Tampak dua orang laki-laki dengan wajah tegang dan seorang wanita sedang menangis. "Din, please kasih aku kepastian. Aku bisa mengerti keadaan kamu tapi bagaimana dengan orang tua kita." Kata salah seorang laki-laki yang diketahui bernama Morgan "Aku ga tahu gan, intinya aku sayang sama  kamu" kata wanita itu masih terus menangis di pelukan laki-laki bernama Morgan "Dinda, aku mau ngomong sama kamu sebentar" kata laki-laki yang sejak tadi hanya terdiam sambil memberi isyarat pada Morgan, Morgan pun mengiayakan dan melepas pelukan Dinda. Mereka berjalan menjauh dari Morgan. "Kamu sayang sama Morgan?" kata Rafael lembut tetapi masih tetap dengan cemas "iya, ka"

Pedih itulah yang dirasakan semua diantara mereka. Mungkin tak ada lagi yang dapat mereka rasakan selain ketegangan, kecemasan, kehkawatiran dan yang pasti kesedihan.

 "Din kamu seharusnya sadar, KAMU dan MORGAN itu punya hubungan darah" DEG! Dinda merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak. "Cukup ka! Itu urusan aku dan Morgan dan ini bukan urusan kaka. Aku tahu cinta ini ga seharusnya tumbuh, tapi aku ga bisa bohongin perasaan aku" Tangis Dinda lagi-lagi pecah lututnya seakan-akan tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya dia pun terduduk di hadapan Rafael "Hhh.." Rafael menarik nafas panjang berusaha membuang semua beban yang menyesakkan dada. TEEEET TTEEEET .. Di waktu yang bersamaan bel pun berbunyi. Rafael mengulurkan tangannya mencoba membantu Dinda agar ia berdiri "Bel istirahat usai din, ayo bangun dan segera masuk kelas nanti kaka jemput kamu setelah kamu pulang, kita bicarakan ini baik-baik" Dinda tak bergeming
Rafael pun lagi-lagi memberi isyarat pada Morgan agar membawa Dinda ke kelasnya. Morgan mengerti ia pun mendekati Dinda dan membantunya berjalan. "Gan gue balik, jam 12 nanti gua jemput lo sama Dinda di Gerbang sekolah kita omongin semuanya baik-baik" kata Rafael lalu pergi meninggalkan halaman belakang SMA Negri ini.

Cinta .. tak tahu asalnya darimana dan entah siapa yang akan dituju tetapi ketika panah cupid telah menembus jantung para pecinta yang telah terpanah, hati pikiran dan jiwanya telah ditutupi oleh kabut cinta yang membuat mereka buta, gila, bodoh , dan bahkan kematian akan bisa menjadi sahabat bagi para pecinta ketika cintanya tak dapat di raih.

_Echa Prahmana Reza_

Morgan masih setia membantu Dinda berjalan untuk kembali kekelasnya namun pada saat sampai di kelas pikiran Morgan berkata lain Morgan ingin semuanya cepat selesai ia ingin mengakhiri semuanya dengan damai. Sesampainya dikelas Dinda, Morgan dengan segera mengambil tas Dinda. Setelah itu Morgan pun beralih kekelasnya dan mengambil tas miliknya. Dalam keadaan itu Morgan terus menarik Dinda agar Dinda ikut dengannya "Gan kita mau kemana?" kata Dinda masih terus berusaha mengimbangi langkah Morgan "Kita cabut" "tapi gan hari ini aku ulangan Fisika" "ikut ulangan susulan" Morgan masih terus berjalan tanpa memperdulikan Dinda yang terengah-engah menyeimbangi langkahnya, saat ini morgan memang benar-benar di beri pilihan yang sangat sulit hingga ia sudah tak memperdulikan kelembutan untuk seorang wanita yang sangat dicinta dan mencintainya.

Akhirnya Morgan pun melajukan motornya ke sebuah danau yang terlihat sepi dan jauh dari keramaian. Saat sampai Morgan turun dari motornya lalu melangkahkan kakinya mendekati sebuah pohon rindang tepat di hadapan Danau

"Hidup memang teka-teki selalu penuh dengan Tanya dan pilihan, dimana kita yang diberi pilihan harus memilih diantaranya sebagai jawaban dari pertanyaan, tapi satu yang harus selalu diperhatikan 'Kebenaran' apakah pilihan kita Benar atau bahkan sangat jauh dari kebenaran walaupun di setiap pilihan baik itu benar atau salah pasti memiliki konsekuensi" Sambil menyapu pandang danau yang begitu tenang Morgan berkata pada Dinda yang membuat Dinda tak mengerti akan perkataan Morgan
"Maksud kamu apa gan?" morgan melirik sekilas Dinda
"ya, saat ini kita sedang di beri teka-teki dimana kamu dan aku harus memilih"
"Lalu, apa isi dari pilihan itu untuk aku?"
"Yang pertaman adalah menuruti ego kita lalu Kau dan aku pergi merajut Cinta Terlarang kita dan membuat secercah kebahagiaan di kehidupan kita agar cinta kita dapat disatukan, yang kedua adalah Mencoba memahami keadaan dan menerimanya kau akan tetap hidup bahagia dengan keluargamu dan akupun bahagia dengan keluargaku lalu kita memilih cinta masing-masing dan melupakan cinta kita" Sekarang Morgan beralih pandang pada Dinda yang saat ini tersenyum namun sayang hanya senyum kekecewaan yang tampak dari bibir cherry nya.
 "Aku tidak akan memilih keduanya" air mata Dinda kembali jatuh dari telaga matanya
"Kau harus memilih Dinda. Karena pilihanmu akan menentukan nasib kita" Morgan kini memegang kedua pipi Dinda dan mencoba menghapus air matanya, ia sekarang benar-benar tak tega melihat orang yang sangat disayanginya menderita seperti ini harus terus menerus tertekan oleh pilihan yang ada. Hanya pelukan hangat yang bisa diberikan Morgan saat ini untuk Dinda tapi sayang kehangatan di tubuh Morgan kini tak dapat lagi menghilangkan kegundahan di hati Dinda.
"Gan, please kasih aku kesempatan untuk mencintai kamu menyayangi kamu dan membahagiakan kamu. Aku mau bahagia sama kamu, sama keluarga kita nanti" Dinda menangis di pelukan Morgan, ini merupakan tangisan paling menyakitkan di hidup Morgan begitu menyesakkan di hatinya bahkan mungkin siapa saja yang mendengar tangisan gadis suci ini orang yang mendengar akan ikut menangis.
"Kamu ga perlu kesempatan untuk membahagiakan aku din, karena kamu itu kebahagiaan aku, cukup melihat kamu tersenyum itu udah lebih dari cukup buat aku. Tapi sayang keadaan berkata lain kita dilahirkan sebagai orang yang memiliki hubungan darah dan saat ini kita sedang benar-benar menantang nasib. apa jadinya perasaan papahku dan mamah kamu kalau tahu hubungan kita? aku yakin mereka akan sangat sangat kecewa kalau tau hubungan ini, dan penderitaan sedang menunggu kita jika kita tak mengakhiri hubungan ini" air mata Dinda kini semakin deras membasahi baju Morgan. angin danau kini ikut menemani mereka, berhembus menerpa anak-anak rambut.

"aku berharap kamu akan memilih pilihan yang kedua, bukan karena aku tak ingin bersamamu tapi inilah hidup, dan inilah kenyataannya sekuat apapun kau berlari untuk menghindarinya kau akan tetap bertemu pada kenyataan, ingat din kenyataan itu bukan mimpi yang bisa sesuka hati kita rangkai agar menjadi apa yang kita inginkan" Dinda tercekat mendengar penuturan Morgan kini dadanya seperti ditiban batu yang beratnya mencapai puluhan ton. Sesak.

"gan please. Aku sayang sama kamu" suaranya bergetar menahan tangis yang sudah pecah itu
"…." Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Morgan, hanya pelukan hangat yang bisa diberikan pada Dinda berharap menularkan energi positifnya pada Dinda
"apa yang harus aku lakukan gan?" Tanya Dinda menatap mata Morgan yang telah menampakkan gurat kelelahan di wajahnya
"akhiri hubungan kita" Ucap Morgan singkat dan tegas
DEG lagi-lagi Dinda merasakan jantungnya yang tiba-tiba seakan berhenti berdetak, ia menggigit bibir bawahnya untuk melampiaskan segala kemarahannya hari ini
"Kamu tega ninggalin aku?" sebuah kalimat terlontar dari mulut Morgan yang membuatnya tergelak. Morgan mencoba mentanslisir keadaan yang mulai memanas
"Kamu percaya sama aku?" Tanya Morgan yang dijawab anggukan oleh Dinda
"Jika kamu percaya seharusnya kamu juga yakin pilihan aku adalah pilihan yang terbaik"

Dinda kembali menangis menelungkupkan kedua tangannya di wajahnya, menahan setiap kekecewaan yang hadir disetiap perkataan Morgan yang menyesakkan dada. Morgan meraih tangan Dinda dan menghapus air mata Dinda.
"Udah cukup Din, jangan nangis lagi denger kamu nangis tuh sama aja kamu nyakitin perasaan aku" kata Morgan membingkai wajah Dinda.
"Aku gak mau pisah sama kamu" lirih Dinda
"jangan memaksakan ego kamu Din, udah seharusnya kamu mikirin keadaan dan orang-orang disekeliling kamu" Ucap Morgan bijak
"kamu mau janji 'jangan pernah hapus aku dari memori kamu' ?"
Morgan tersenyum mendengar ucapan Dinda "gak akan pernah" kata Morgan mantab dan segera menarik Dinda dalam pelukannya.

Entah apa yang saat ini harus mereka rasakan. Haruskan mereka bersedih karena perpisahan mereka? Atau harus kah mereka bahagia karena berhasil menemukan titik terang? Hanya diri mereka yang dapat menjawab itu.

_Echa Prahmana Reza_

***
Hening terjadi di dalam mobil milik Rafael, sepertinya Dinda enggan untuk membuka mulutnya, Rafael juga hanya fokus pada kegiatan menyetirnya, dan Morgan? Hhh jangan tanyakan dia, karena dia memang hanya akan bicara jika ada yang mengharuskannya bicara.

Ban mobil Rafael berdecit saat berhenti di depan rumah yang cukup mewah, mereka bertiga turun dengan perasaan yang tak dapat dijelaskan. Tangan Morgan meraih tangan Dinda. Menautkan jari-jari mereka dengan erat, hingga mereka sampai disebuah ruangan yang diselimuti rasa tegang dan kecemasan yang tergambar di wajah orang-orang yang ada disini.

"Duduk" kata laki-laki paruh baya yang sedari tadi duduk di bangku tanpa menyambut seseorang yang baru saja datang, matanya memandang sinis kearah Dinda dan Morgan begitu juga dengan tiga wanita dan dua pria lainnya yang juga telah duduk di bangku yang tersedia disana. Ya terlihat sekali mereka adalah sepasang suami istri yang sedang dilanda kegalauan perihal hubungan tiga remaja yang baru datang tadi.

Dinda dan Morgan tak menanggapi perkataan laki-laki paruh baya itu yang diketahui adalah ayah dari Dinda. Justru kini ayahnya bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah mereka. Suasana mencekam semakin menjadi di ruang ini. Dinda bergidik ngeri melihat wajah ayahnya yang sedang marah itu.
"Kenapa kamu menyembunyikan semuanya? Kenapa kamu menjalin hubungan dengan Morgan? Seharusnya kamu tahu siapa diri kamu Dinda" ucap sang ayah dengan nada tinggi
"maafin aku pah" Dinda lagi-lagi menjatuhkan liquid bening dari matanya yang entah berapa banyak yang telah ia keluarkan. Morgan semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Dinda, Morgan tahu saat ini Dinda sedang ketakutan.
"Kamu tahu betapa malunya papah saat mengetahui hubungan kalian. Sebenarnya apa yang kalian fikirkan? Apa yang kalian mau hah?" ucapnya lagi
"Aku sayang sama Morgan pah" entah bagaimana kata-kata itu keluar dari mulut Dinda
"Apa kamu bilang?" Tanya ayahnya dan Plaak satu tamparan berhasil mendarat di pipi Dinda. Dinda mengerang kesakitan dan menangis. Morgan yang melihat kejadian itu langsung menarik Dinda kebelakang tubuhnya
"Cukup om, kita juga gak pernah mau ini terjadi, cinta itu datang begitu aja. Dan cukup menyalahkan Dinda" kata Morgan membela Dinda
"Lantas apa yang kalian mau?" ketus ayah Dinda
"Kita udah memutuskan perihal hubungan kita, dan semoga ini bisa jadi yang terbaik. Aku dan Dinda udah putus, lusa aku akan pindah sekolah ke Makassar karena kalau aku disini aku takut semuanya terulang kembali  yang hanya akan membuat semuanya semakin kacau. Dinda juga udah setuju soal itu" Kata Morgan beralih pandang pada Dinda. Dinda membulatkan matanya kaget akan apa yang baru saja Morgan katakan, sebelumnya Morgan tak pernah mengatakan akan pindah sekolah. Mamah Morgan tersenyum lega mendengar keputusan anaknya yang akhirnya mau dipindahkan sekolah ke Makassar setelah susah payah membujuknya.

Ayah dinda mengangguk entah ia mengerti atau setuju dengan keputusan Morgan. Kemudian Dinda yang sejak tadi bersembunyi di belakang Morgan kini menatap Morgan dengan tatapan tolong-jelaskan-semuanya-padaku.

***

Tak terasa lima tahun sudah berlalu, sebuah acara pernikahan di gelar cukup meriah di rumah yang cukup mewah itu, semua orang menampakkan senyum bahagianya pada acara yang berbahagia pula. Tapi entahlah aku tak dapat menjelaskan ekspresi apa yang sedang ditunjukkan oleh seorang wanita bergaun putih cantik, elegan tapi juga masih menampakan kedewasaan di tubuhnya. Hingga seseorang memeluknya dari belakang melingkarkan tangannya di tubuh ramping Dinda.
"lagi ngapain kamu disini sayaang" katanya manja lalu membenamkan kepalanya di ceruk leher Dinda menghirup bau harum tubuhnya yang menyejukkan
"kamu tahu kan Raf aku gak suka keramaian" jawabnya lesu
"Tapi, ini acara pernikahan kita" katanya membalikan tubuh Dinda dan menggenggam tangannya
"tapi aku"
"sstt, aku mohon untuk kali ini aja" Kata Rafael menatap intens mata Dinda, Dinda hanya mengangguk lesu lalu berjalan menuju ruang utama.

Janji suci diucapkan keduanya, berharap hubungan mereka akan abadi sampai mereka menutup mata. Dan di berikan keselamatan untuk keluarga bahagia mereka nantinya. Setelah janji itu diucapkan mempelai pria diharapkan mencium mempelai wanita.
Rafael melumat bibir cherry Dinda dengan lembut setelah beberapa saat baru mau melepaskan ciuman singkat itu. Blusshh~ pipi Dinda merona merah disambut tawa oleh para tamu

Sepasang mata menyaksikan nanar kejadian itu, memalingkan wajahnya agar tak menyinggung perasaan sang pengantin, hingga Dinda melihat sepasang mata indah itu yang telah lama tak mengisi kekosongan jiwanya. Mata yang selalu memberinya ketenangan saat menatapnya, tatapan mata yang selalu memberi jawaban atas pertanyaan rumit dikepalanya, mata yang selalu Dinda rindukan di setiap harinya, mata yang rasanya ingin Dinda raih kembali dan memilikinya. Mata itu adalah mata seorang pria bernama Morgan. Dinda merasa air matanya berontak minta dikeluarkan. Tidak tidak.. tempat dan waktu saat ini tak memperbolehkannya untuk menangis. Akhirnya Dinda berlari kekamarnya untuk memuaskan keinginan mata yang telah meronta-ronta sejak tadi. Dinda menangis mengeluarkan semua perasaan yang telah menggumpal didadanya. Ia meremas bantal dengan kencang melampiaskan segala kekesalannya
"Kenapa baru sekarang?"
"kenapa gak dari dulu?"
"kenapa dia tega ninggalin aku bersama semua rasa rindu yang kian menggunung?"
"kenapa dia sekarang hadir lagi?"
"Kenapa harus sekarang?"

"Maaf" ucap seseorang yang tiba-tiba masuk ke kamar Dinda, mengejutkan Dinda dari aktifitas menangisnya
"bahkan maaf mu gak cukup buat ngobatin luka dihati aku gan" jawab Dinda dengan mata yang masih berlinang air mata
"Ini semua demi kebaikan kita Din, aku yakin kamu bisa hidup tanpa aku" ucap Morgan lirih
"Puas kamu gan? Puas? Setelah lima tahun ini kamu ninggalin aku tanpa kabar? Setelah perpisahan tanpa ucapan selamat tinggal ini? Membiarkan aku hampir mati berdiri buat ngelupain kamu? Apa kamu udah puas nyakitin aku ? hati aku bukan kanvas yang bisa seenaknya kamu gambar dengan luka disana sini gan" air mata seakan tak ada habisnya keluar dari kelopak mata Dinda, Morgan berjalan mendekati Dinda, ingin sekali Morgan menghapus air mata Dinda. Ini semua memang karenanya, ini semua salahnya yang seenaknya pergi meninggalkan Dinda bersama semua kenangan mereka.

 Akhirnya Morgan berhasil menggapai wajah Dinda dan menghapus air matanya. Ada kepuasan tersendiri di hati Morgan. Wajah yang telah lama ia tak sentuh kini akhirnya dapat ia sentuh kembali, mata yang selama ini ia rindukan akhirnya dapat ia tatap lagi, setengah jiwa yang hampir mati karena terpisah jarak kini seperti hidup kembali. Morgan menarik Dinda kedalam pelukannya, kehangatan yang pernah hilang kini kembali hadir lagi.
"Kenapa gan? Kenapa kemu tega? Seengganya kamu bisa kasih kabar aku, kenapa kamu begitu gampang ngelupain aku"
"kamu tahu ngelupain kamu adalah hal tersulit di hidup aku, maafin aku. Aku tahu aku salah. Kamu boleh marah sama aku, kamu boleh pukul aku. Terserah kamu tapi aku mohon jangan nangis lagi" kata Morgan mengelus rambut Dinda sayang
"jangan tinggalin aku lagi gan"
"engga Din, kamu harus udah bahagia sama Rafa, aku gak mau jadi orang ketiga diantara kamu. Inget Rafa selalu ada disaat kamu butuh, dia sayang sama kamu. Belajar cintai Rafa mulai saat ini Din, karena itu adalah salah satu bentuk terimakasih aku sama dia karena dia bisa jagain orang yang aku sayang selama aku gak ada disisi kamu" Dinda tersenyum miris mendengar itu.

Takdir, sekuat apapun kau mengubahnya jika itu sudah takdir mu tak akan seorang pun bisa mengubahnya, percayalah takdir yang telah ditentukan untuk mu adalah yang terbaik yang Tuhan berikan untukmu


Komentar