"Aku ga butuh kamu, aku bisa mengurusnya
sendiri" ucap lelaki paruh baya itu
"ck, jangankan mengurusnya menyempatkan waktu
untuk dia saja kau tak pernah" jawab seorang wanita dengan wajah merah
padam
"Kau itu ibunya seharusnya kamu punya lebih
banyak waktu untuk menjaganya"
"Aku juga punya kerjaan jadi tak bisa terus
menerus menjaganya, kamu kan juga orang tuanya jadi kau punya hak yang sama
untuk meluangkan waktumu agar bisa bersamanya"
"dengar ya aku itu sudah sibuk dengan pekerjaanku,
lagi pula hasilnya untuk siapa? Untuk kamu untuk anak kita"
"sepertinya sekarang kau tak perlu mengurus kami
lagi, karena kami akan segera pergi" wanita itu kini meninggalkan
laki-laki itu sendiri bersama amarahnya.
Aku mengamati mereka dari ambang pintu dangan hati
yang menahan kekecewaan, bosan sekali aku mendengar pertengkaran mereka seakan
tak pernah ada habisnya.
***
Kenalkan aku Bintang umurku saat ini 16 tahun
umur yang terlalu muda untuk menerima penderitaan ini. Rumah? Tempat yang
bagaikan neraka untukku, tak pernah ada kedamaian didalamnya. Aku tak pernah
mengerti apa yang mereka selalu ributkan, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan
mereka, menuntut satu sama lain agar menyempatkan waktu untuk menjagaku.
***
Di tempat ini aku berusaha membuang semua rasa lelah,
amarah, kecewa, benciku pada kedua orang tuaku. Hanya ini satu-satu nya tempat
yang 'mungkin' bisa membantuku melupakan kontroversi hidupku. Bukit ini akan
menjadi saksi bisu atas pedihnya kehidupanku.
Kini matahari telah kembali ke peraduannya menyelimuti
bumi ini dengan kegelapan malam yang khas.
"Apa
Dewa Neptunus sedang menghukumku? Kenapa aku harus dilahirkan dikeluarga ini?
Aku butuh keluargaku yang utuh. Aku ga butuh uang yang selalu mereka cari. Aku
ingin kasih sayang mereka"
Aku menangis berbaring di rumput ditemani ilalang yang
tumbuh subur di sekitar bukit ini menatap langit dan mengharapkan sang bintang
dapat menjawab semua pertanyaan dikepalaku. Memang terlalu lemah untuk seorang
laki-laki menangis terisak seperti ini tapi hanya inilah yang akan membantuku
meringankan rasa sesak di dadaku. Tiba-tiba dentingan keras yang memekakan
telinga menyeruak menganggu indra pendengaranku. Sedetik kemudian muncul
sesosok makhluk bertubuh yaiks tak bisa kujelaskan membawa lentera ditangannya.
Nafasku tercekat melihat sosok itu.
"Aku tahu siapa kau sebenarnya wahai anak muda,
dan aku yakin saat ini kau butuh bantuan untuk menyatukan kembali keluargamu
yang telah diujung tanduk itu" sosok itu berucap. Aku segera menghapus air
mataku "Kau? Kau tau masalahku?"
Makhluk itu lalu tertawa kemudian berhenti seketika,
ck makhluk yang aneh.
"Setidaknya
kau lebih beruntung dariku, walau keluargamu sering bertengkar tapi mereka
selalu berusaha menyempatkan waktunya untukmu" Makhluk itu kini duduk
disampingku tanpa memperdulikan jantungku yang hampir lepas dari singgasananya
"Bahkan aku tidak tahu siapa orang tuaku. Aku ingin merasakan kasih sayang
dari seorang ibu" lanjut makhluk aneh itu dengan ekspresi yang terlihat
bersedih. Entah angin dari mana aku berkata "Bagaimana kalau kita bertukar
kehidupan, aku ingin bebas sepertimu merasakan hidup tak pernah ada masalah
dengan sosok orang tua" dia berdiri menimbulkan bunyi gemerincing lonceng
dari kalungnya
"Kau
yakin dengan itu?" katanya bersemangat
"ya"
"baik
kalau gitu, aku janji setelah malam jum'at ke 13 dimulai dari hari ini aku akan
menyatukan keluargamu kembali"
"Berarti
kita akan kembali seperti semula pada malam jum'at ke 13?" jin itu
mengangguk
"Oke
dikalender hp ku saat ini menunjukkan tanggal 8 yang berarti sekarang malam
jum'at ke 9 di tahun ini, dan malam jum'at ke 13 jatuh pada tanggal 22 dimana
aku akan kembali seperti semula?" tuturku di jawab dengan anggukan
olehnya.
"Aku
Jin Tomang, panggil saja aku Umang" katanya mengulurkan tangan padaku
"Aku
Bintang"
"Sekarang
tutup matamu, dan jangan kau buka sampai ada bunyi denting lonceng" aku
mengiyakan, sedetik kemudian ia melakukan sesuatu yang tak ku mengerti, membaca
mantra dengan cepat tersirat kata Neptunus didalam kalimat itu. Tiiinngg!!!
"akkhh" teriakku merasa terganggu dengan suara denting itu. Kemudian
aku segera membuka mata dan pemandangan aneh mengejutkanku. Aku melihat tubuhku
berdiri dihadapanku sendiri, dengan perasaan takut aku memperhatikan tubuhku
saat ini, mulai dari ujung kaki sampai bagian yang dapat terjangkau oleh
mataku. Aku bergetar melihatnya, kakiku menjadi sebesar gajah, perutku menjadi
buncit dan kepalaku tak ditutupi sehelai rambutpun. Aku merasa jijik dengan
tubuhku sendiri 'Tak apa Bintaang ini demi keluargamu' kataku menyemangati
diriku sendiri.
"hahaha
aku menjadi manusia dan akan mendapatkan keluarga, oh ya bintang kau harus tahu
saat ini tak ada seorangpun yang dapat melihatmu kecuali aku" kata tubuhku
sendiri.. tidak itu Umang.
Aku memandang sekeliling berbagai makhluk aneh
berkumpul di tempat ini. Mulai dari Wanita cantik tapi sayang matanya tak ada,
makhluk berbadan setengah, makhluk bermata merah dengan badan berbulu dan hitam
besar, anak kceil dengan kepala botak dan masih banyak lagi, leherku tercekat
tak dapat berkata apapun melihat pemandangan ini. Umang masih tertawa bahagia
didalam tubuhku
"Umang siapa mereka?" tanyaku ditengah
ketakutan yang tengah melanda diriku
"Jangan takut mereka itu sama sepertimu, dan
jangan khawatir mereka tak akan melukaimu" jawab Umang lalu berlalu pergi
meninggalkanku sendiri
Setelah perjanjian itu dibuat aku merasa sangat bebas
walaupun aku merasa kecewa dengan bentuk tubuh seperti ini, setidaknya aku bisa
bahagia tanpa memikirkan masalah dengan orang tuaku
***
Malam Jum'at ke 10
Entah
apa yang Umang lakukan pada keluargaku yang jelas malam ini Umang datang ke
bukit menemuiku, ya memang aku selalu akan berada disini saat malam tiba ya
walaupun sesekali aku akan pergi ke kota jika sedang bosan. Umang memberitahuku
bahwa orang tuaku tak jadi bercerai. Aku senang mendengar penuturan Umang hari
ini. Ia bercerita banyak mengenai keluargaku.
Malam Jum'at ke 11
Sudah
tiga minggu aku menjadi seorang Jin, bosan juga rasanya tak memiliki keluarga
dan teman. Tapi kabar baik selalu datang dari keluargaku. Semakin hari mereka
semakin harmonis, dan lagi-lagi umang bercerita mengenai kedekatannya pada
keluargaku yang semakin akrab. "Aku senang jika sedang berkumpul dengan
keluargamu, ternyata mereka adalah sosok yang perhatian. Beruntung sekali kamu
bisa memiliki orang tua" tutur Umang ketika bercerita. "Aku selalu
merindukan sosok mereka yang seperti itu" lirihku pada Umang yang hanya
bisa menepuk bahuku pelan, berusaha memberi energy positif nya padaku
Malam Jum'at ke 12
Malam
Jum'at di Minggu ini aku memutuskan untuk datang ke rumahku, memperhatikan
keluargaku yang tengah berkumpul di ruang keluarga. Umang duduk diantara Mamah
dan Papah, terlihat bahagia sekali mereka.
"Mamah
ada kabar baik loh" Suara mamah memecah kesunyian
"Apa?"
ucap Umang
"Kamu
sebentar lagi jadi seorang kakak" kata mamah mencubit hidung Umang, aku
turut senang mendengar kabar bahagia itu, tak sabar rasanya bergabung bersama
keluargaku lagi keluarga yang harmonis. Tak hanya itu mamah juga memberi tahu
bahwa dia akan berhenti bekerja, yang disambut senyum puas oleh Papah. Secara tidak
langsung mamah akan memeperbanyak waktu untuk bersamaku. Hatiku semakin
menggebu-gebu ingin cepat-cepat kembali pada tubuhku. 'Sabar Bintaang hanya
tinggal malam Jum'at ke 13'
Malam Jum'at ke 13
Inilah
penghujung dari penantian panjangku, Hari ini aku akan berkumpul bersama
keluargaku lagi, tak sabar rasanya menanti Umang datang. Tapi aku akan setia
menunggu disini, mungkin Umang sedang mengucapkan kata perpisahan dengan orang
tuaku.
*
2 jam aku menanti disini tapi Umang tak kunjung
datang, aku mulai lelah menantinya. Bukit ini masih seperti biasa ramai dengan
makhluk dari alam lain, tapi sepertinya aku mulai terbiasa dengan kehadiran
mereka, walau aku masih sering kaget jika bertemu mereka dalam keadaan yang tak
menguntungkanku setidaknya aku lebih berani dibanding pertama kali aku melihat
mereka. Aku masih menunggu di bukit ini,
sesekali aku berbaring diatas rumput untuk membuang kejenuhan, merasa Umang tak
juga datang akhirnya aku memutuskan untuk datang menjemputnya.
*
"Umang" panggilku pada Umang yang tengah
makan malam bersama keluargaku, Umang menghentikan aktifitas makannya, meminta
izin pada orang tuaku untuk keluar
"Tanggal berapa ini?" kataku tersulut emosi
"22" kata Umang santai
"Kau lupa dengan perjanjian kita? Aku menunggumu
dibukit sejak 2 jam yang lalu
"Aku tidak lupa, tapi aku hanya tidak ingin
bertukar tempat denganmu, aku telah bahagia bersama keluarga ini"
"Apa? Kau melanggar perjanjian kita"
"Aku tak pernah berjanji kembali ke tubuh jelekku
itu, aku hanya berjanji mempersatukan kembali keluargamu yang sekarang menjadi
keluargaku"
"Kau tak bisa seenanknya Umang, kembalikan
tubuhku"
"Tidak, lebih baik kau pergi" Umang berlalu
meninggalkanku sendri "Ini keterlaluan" batinku.
Aku berlari dengan susah payah menuju bukit, aku ingin
berteriak mengeluarkan semua kekecewaanku, mengapa harus berakhir seperti ini?
Wahai dewa Neptunus. Sekarang apa lagi yang kau perbuat kepadaku. Tiba-tiba aku
mendengar suara gemeresak dari belakangku. Aku melihat makhluk sedang
menggaruk-garuk tanah, aku mendekatinya
"Hai apa yang kau lakukan?" Tanyaku, ia
menoleh dan terkejut melihatku
"Anakku" katanya lalu berhambur memelukku
"Apa-apaan ini?" aku mencoba berontak
"Kau Umangkan? Ini bapakmu nak" katanya
terharu. Aku terkejut mendengarnya, segera aku mengajaknya datang ke rumahku
agar ia bisa bertemu dengan Umang, aku menjelaskan semuanya secara runtut
hingga akhirnya ia mengerti.
*
"Umaang" ucapku berteriak di pekarangan
rumahku, tak ada jawaban aku kembali memanggilnya hingga pintu rumah terbuka.
"Umang" ucap sosok yang mengaku sebagai
bapaknya Umang, ku kira itu memang benar. Karena fisik mereka tak jauh berbeda.
Umang menganga melihatnya. Sepertinya ia mengenali makhluk itu.
"Bapak" gumamnya
"Ya, kemarilah nak" ucap sang bapak
"Tidak pak aku telah bahagia bersama keluarga
ini" kata Umang berat
"tak boleh begitu nak, kita punya alam
masing-masing, kita punya kehidupan sendiri jangan kau ganggu kehidupan
manusia. Yakinlah kita bisa bahagia tanpa menganggu kehidupan orang lain"
Sang bapak menjatuhkan bulir air matanya. Disusul
Umang yang ikut menangis dan langsung berhambur memeluk bapaknya.
"Sekarang kembalikan tubuh anak ini" kata
sang Bapak bijak, Umang hanya mengangguk
"Bintang, kau ingatkan cara pertukaran tubuh kita
kemarin?" Kata Umang menatapku, aku mengangguk. Segera aku memejamkan
kedua mataku, masih dengan mantra yang sama Umang mulai mencoba menukar tubuh
kami kembali. Tiiing ting ting tiiiing gemerincing lonceng mengakhiri mantra
Umang.
Perlahan aku membuka mataku, senangnya hati ini
melihat Umang ada dihadapanku, yang menandakan bahwa aku telah kembali pada
tubuhku. Aku meriksa kembali bagian-bagian tubuhku aku mengecek wajahku 'masih
sama seperti semula tak ada yang berubah'. Setelah pertukaran tubuh itu
terdengar bunyi gemuruh, sepertinya hujan akan turun. Aku menyambut hujan
dengan bahagia. Umang menatapku senang lalu ia merentangkan tangannya
mengisyaratkan aku agar memeluknya, aku tersenyum dang langsung memeluknya
"Terimakasih" ucapku bahagia "Kembali bintang, terimakasih telah
mempertemukanku dengan bapakku" katanya lalu melepaskan pelukannya.
*
Aku berlari menuju rumahku dengan pakaian yang sudah
basah terguyur hujan, aku mendapati sosok mamah yang tengah merapihkan meja
makan, aku langsung memeluknya dengan perasaan yang menggebu-gebu.
"Hey kenapa kamu sayang" ucap mamah terkejut
"Aku Kangen Sama Mamah" kataku mempererat
pelukanku.
"Loh setiap hari juga kamu ketemu mamah"
ucap mamah mengusap rambutku sayang
"iya, tapi hari ini aku kangen banget sama
mamah" kataku masih memeluk mamah
"yasudah sekarang kamu ganti baju dulu gih tuh
bajunya basah gitu, nanti kalo kamu sakit gimana?"
"Iya mah" ucapku tersenyum pada mamah lalu
pergi menuju kamar kesayanganku.
The End
Komentar
Posting Komentar